DPD Partai Demokrat DKI Tolak Rencana KLB

Foto : istimewa
Foto : istimewa

jakarta24jam.com – DPD DKI Partai Demokrat menegaskan seluruh kader Partai Demokrat DKI Jakarta menolak secara tegas wacana diadakannya Kongres Luar Biasa.

Hal tersebut menanggapi sikap politisi senior Partai Demokrat yang membentuk Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD), dan mengusulkan diadakannya Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat.

“Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pak SBY masih berada di jalur yang tepat, sehingga usulan KLB ini kami tolak dengan keras,” kata Ketua DPD DKI Partai Demokrat Santoso di kantornya, Cipayung, Jakarta Timur.

Santoso juga meminta kepada DPP Partai Demokrat untuk menindak tegas para kader yang menggulirkan isu tersebut.

“Bagaimana bentuk sanksinya, itu kami serahkan kepada DPP Partai Demokrat,” lanjutnya.

Seperti diketahui, sejumlah pendiri dan senior Partai Demokrat mendorong partai berlambang mercy ini untuk segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB).

Pendiri dan senior diantaranya Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Max Sopacua, Ahmad Mubarok, Ahmad Jaya dan Ishak.

“Untuk itu kami menetapkan momentum puncak GMPPD dengan menyiapkan, mendorong dan melaksanakan suksesnya Kongres Luar Biasa,” kata Max saat memberikan keterangan pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2019).

Max mengaku langkah ini ditempuhnya lantaran prihatin dengan anjloknya perolehan suara Demokrat di Pemilu Legislatif tahun ini.

Ia merinci dari 10,9 persen di tahun 2014 lalu menjadi 7.7 persen di tahun 2019, sehingga menurutnya, Demokrat perlu melakukan evaluasi mendalam.

Terkait kondisi ini diperlukan adanya introspeksi dan evaluasi menyeluruh untuk kemudian bersama seluruh potensi dan kader guna membangkitkan semangat dan mengembalikan marwah serta kejayaan Partai Demokrat,” jelasnya.

Ia turut menyinggung soal orang orang yang berada di sekitar lingkaran SBY, yang kerap menimbulkan kontroversi, padahal dimatanya sikap tersebut bukan representasi Partai Demokrat, orang orang itu diantaranya Rachland Nashidik, Ferdinand Hutahaean, dan Andi Arief.

“Mereka kerap melontarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan Marwah karakter dan jati diri Partai Demokrat sehingga melahirkan inkonsistensi dan kegaduhan membenturkan Partai Demokrat dengan partai tokoh dan komunitas lainnya khususnya terhadap ulama dan umat yang berdampak adanya antipati dan kontra produktif terhadap Partai Demokrat,” jelas Max. (Potan Ahmad/RED)