Pamerindo Gelar Pameran Electric, Power, Renewable Energy Indonesia 2017

(Ki-ka) : Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Alihudin Sitompul, Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Stry Nugraha dan Project Director Pamerindo Indonesia Wiwiek Roberto, saat mengunjungi both di Pameran Electric, Power & Renewable Indonesia 2017 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (6/9). Foto : ist.
(Ki-ka) : Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Alihudin Sitompul, Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Stry Nugraha dan Project Director Pamerindo Indonesia Wiwiek Roberto, saat mengunjungi both di Pameran Electric, Power & Renewable Indonesia 2017 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (6/9). Foto : ist.

jakarta24jam.com – Kepedulian pemerintah dalam memanfaatkan sumber energi pembangkit dengan harga yang terjangkau, mendorong pemerintah melakukan berbagai kebijakan konservasi energi dalam bentuk peningkatan efisiensi penggunaan energi baik di sisi penyediaan maupun di sisi kebutuhan, sektor industri, transportasi, rumah tangga dan komersial.

Pemerintah bersama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero sedang membahas revisi Rencana Umum Penyelenggaraan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017-2026. Dalam revisi tersebut, ada beberapa komponen bauran energi yang berubah. Salah satunya peningkatan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk proyek pembangkit listrik.

Selain digunakan sebagai sumber energi pembangkit, EBT juga memiliki harga ke-ekonomian yang tinggi, potensi EBT di Indonesia pun terbilang melimpah sehingga perlu dimaksimalkan pemanfaatannya.

Dukungan pengembangan EBT juga datang dari Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) melalui Sekretaris Executive MKI Bambang Hermawanto mengatakan peran swasta sangat ditunggu dalam pengembangan EBT. Pasalnya kebutuhan energi altérnatif semakin mendesak demi tercapainya target bauran EBT sekitar 23 persen pada 2025.

“Jika kita posisikan MKI ini adanya ditengah antara players, operator dan regulator. Jika kita mau push tentunya disesuaikan dengan program pemerintah yaitu harga listrik yang terjangkau. Pengembangan EBT tentu kita dukung, termasuk aspek ketenagalistrikan térutama program penurunan emisi dengan konvensional resource minyak, batu barandan gas, disamping antara EBT dan konvensional dari sisi emisi”, terang Bambang.

MKI mendorong pemanfaatan EBT, tetapi apakah pemerintah dapatn memberikan pembinaan dan dukungan bagi para investor. “Misalnya para investor yang berinvestasi kemudian mendapatkan pengembalian yang memadai. Disamping pemerintah menyediakan harga listrik yang terjangkau ke konsumen, saya melihatnya ini dua hal yang berbeda. Kompetitif tapi investasinya tidak bisa memenuhi dari sisi konsumen”, lanjut Bambang.

Pameran Electric, Power & Renewable Indonesia 2017 yang digelar pada 6-9 September 2017, di JIExpo Kemayoran Jakarta tersebut merupakan platform yang ideal sebagai penyedia sarana industri terbarukan,kebutuhan listrik dan pembangkit listrik bagi sektor industri.

Project Director Pamerindo Indonesia Wiwiek Roberto mengatakan, dukungan program pemerintah tidak hanya dalam pemanfaatan energi baru terbarukan, namun juga electric dan power sehingga dapat dijadikan satu flatform dimana dapat mempertemukan pengambil keputusan dengan para industrinya.

“Pameran ini selalu dinanti, respon pengunjung ditahun lalu luar biasa, dan kami harapkan tahun ini pengunjungnya meningkat sekitar 20.500 pengunjung selama 4 hari pameran di banding 2 tahun sebelumnya”, ungkap Wiwiek.

Lebih dari 914 perusahaan dari 39 negara/region abaik lokal maupun luar negeri, termasuk 7 pavilion seperti China, Germany, Korea-KEMC, Korea-KOEMA, Singapore, Taiwan (TEEMA) dan Turkey dalam 17.500 sqm area pameran. Dengan hadirnya brand besar semakin melengkapi kebutuhan para stakeholder akan industri electric, power & renewable. (REL/RED)