Karen : Menghukum Orang yang Benar itu Lebih Kejam

Mantan Dirut PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan (kiri) saat mengikuti sidang pembelaan (pledoi) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (29/5). Foto : Dadang Subur
Mantan Dirut PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan (kiri) saat mengikuti sidang pembelaan (pledoi) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (29/5). Foto : Dadang Subur

jakarta24jam.com – Dengan suara lantang dan tegas mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Galaila Karen Kardinah alias Karen Agustiawan mencurahkan isi hatinya saat membacakan nota pembelaan (pledoi) pribadinya yang dibuat dengan sungguh-sungguh berdasarkan apa yang dialaminya

sebanyak 26 halaman didepan majelis hakim Pengadilan Tipikor, di Jl Bungur Besar No. 24 Kemayoran Jakarta Pusat, pada Rabu (29/5/2019).

 

“Saya sangat berharap majelis hakim dapat mengerti pledoi yang saya buat dengan sungguh-sungguh. Dan keluar dari apa yang saya alami sendiri. Mudah-mudahan majelis hakim dibukakan hati nuraninya. Yang benar itu benar, yang salah itu salah,” ujar Karen.

 

Karen menambahkan, Menghukum orang yang benar lebih kejam karena itu pengadilan jangan menghukum orang yang benar.

 

Walaupun begitu, dia minta majelis hakim tidak perlu mempunyai rasa khawatir bila kelak putusannya akan menjadi suatu yang anomali.

Saat ditanyakan apakah dirinya menyesal bergabung dengan Pertamina hingga sekarang menjadi terdakwa ? Karen menjawab, “Saya bukan menyesal. Saya menyesal karena eksepsi saya tidak diterima. Coba jika diterima. Ini tidak akan sampai di persidangan. Dan saya itu menyesal bahwa JPU malah melanjutkan ini ke P21 tahap 2. Kan mestinya dilihat dulu. Ini payung hukumnya apa? Ini perdata atau pidana.”

 

Menurut istri Herman Agustiawan ini, korporasi tunduk pada perdata karena payung hukumnya Undang-undang (UU) Perseroan Terbatas (PT). “UU PT dan Anggaran Dasar (AD) Pertamina sebetulnya kontrak antara pemegang saham dengan saya dan dengan pengurus. Kok bisa larinya ke pidana? Mestinya dari awal itu ada seleksi alam. Yang kayak gini ini mestinya tidak sampai ke persidangan. Kan semua proses ini melelahkan!” ujar Karen.

 

Akibat preseden ini, lanjutnya, sekarang di Pertamina tidak mau melakukan investasi apa pun karena takut ‘di Karenkan’.

 

“Istilah takut ‘di Karenkan’ ini sebenarnya sudah menjadi momok buat investasi,” tegas Karen.

 

Ketika ditanyakan apakah pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) ada yang mengontrol kasus ini, Karen mengaku tidak mengetahuinya secara pasti. Namun dirinya hanya mendengar waktu itu, Pertamina mengangkat staf ahli dari mantan Kejaksaan.

 

“Setelah Pertamina mengangkat mantan Kejaksaan sebagai staf ahli di Pertamina, hal-hal yang mestinya tidak menjadi isu malah melebar. Jadi, saya berfikir, ada apa ini?” tanya Karen. (TIP/RED)