Frederick : Dekom Pertamina Cuci Tangan Dalam Masalah Blok BMG Australia

Mantan Dirut PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan (kiri) didampingi kuasa hukumnya saat sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (9/5). Foto : Dadang Subur
Mantan Dirut PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan (kiri) didampingi kuasa hukumnya saat sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (9/5). Foto : Dadang Subur

jakarta24jam.com – Mantan anggota Dewan Komisaris PT Pertamina (Persero), Gita Wirjawan dinilai melempar tanggung jawab terkait proses akuisisi Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009. Pasalnya, akuisisi Blok BMG secara gamblang telah mendapatkan restu dari dewan komisaris.

Hal itu terungkap dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (9/5/2019). Gita bersaksi untuk terdakwa mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan. Dalam persidangan Gita bersikeras bahwa direksi Pertamina berbeda pemahaman dengan dewan komisaris terkait bidding investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG), Australia pada tahun 2009.

Kesaksian Gita dibantah mantan Direktur Keuangan (Dirkeu) PT Pertamina, Frederick ST Siahaan. Menurut Frederick, akuisisi Blok BMG telah mendapatkan restu dari dewan komisaris. Namun disaat proses berlanjut, komisaris menyesali keputusannya untuk merestui akuisisi tersebut. Anehnya, selang beberapa lama kemudian, dewan komisaris menyetujuinya. Sikap lempar tanggung jawab dari dewan komisaris ini yang membawa jajaran direksi di dalam pusaran masalah.

Foto : Dadang Subur
Mantan Direktur Keuangan (Dirkeu) PT Pertamina, Frederick ST Siahaan (kiri) bersama mantan anggota Dewan Komisaris PT Pertamina, Gita Wirjawan (kanan) saat bersaksi dipersidangan mantan Dirut PT Pertamina, Karen Agustiawan, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (9/5). Foto : Dadang Subur

 

“Padahal jelas, komisaris itu punya kewenangan dan apa yang jadi wewenangnya berhak setuju atau tidak setuju (rencana akuisisi Blok BMG), tapi dia bilang setuju di depan kemudian menyesali keputusannya terus akhirnya setuju lagi. Kalau ini menyesali keputusannya kenapa nggak bilang dari awal saja, komisaris ini nggak tegas,” kata Frederick di Jakarta usai menjadi saksi dalam persidangan Karen, Kamis, (9/5).

Tidak hanya itu, Frederick juga membantah kesaksian dari Gita yang sempat menyatakan bahwa keikutsertaan Pertamina dalam bidding untuk proyek tersebut adalah sebagai upaya melatih SDM Pertamina.

”Itu tidak benar. Komisaris dan dewan direksi sudah memahami bahwa keikutsertaan Pertamina dalam setiap bidding dalam sebuah proyek adalah untuk mendapatkan benefit bagi perusahaan,” tegasnya.

Dikatakannya kalau hanya sekedar untuk pelatihan SDM, dewan direksi tidak perlu meminta restu dari dewan komisaris. Sementara yang dilakukan Karen mewakili direksi lainnya untuk akuisisi Blok BMG telah melalui tahapan untuk meminta persetujuan dewan komisaris.

“Mana ada biding untuk main atau coba-coba, kalau untuk coba-coba, mendingan kita nggak usah bidding. Ngapain kita bayar konsultan mahal, ngapain kita bayarin biaya perjalanan kalau hanya untuk jalan-jalan belajar,” jelas Frederick.

Masih dalam kesaksiannya, Frederick menilai pernyataan dan kesaksian dari dewan komisaris yang sempat didatangkan sebagai saksi di dalam persidangan Karen, terkesan ada motif lain di balik sikap inkonsisten dewan komisaris. Dia curiga dewan komisaris saat itu sengaja mempermainkan direksi Pertamina.

“Komisaris tidak hanya cuci tangan (dalam masalah Blok BMG) tapi juga punya niat jahat kepada direksi. kalau saya nggak ada masalah dengan komisaris nggak tahu kalau dengan direksi lain,” pungkasnya. (TIP/RED)