Ekonomi Indonesia Jelang Resesi

(Ki-ka) : Tri Wibowo Santoso, Moderator Diskusi - Peneliti Pergerakan Kedaulatan Rakyat, Gede Sandra - Director Data Indonesia, Herry Gunawan - Peneliti Lembaga Demografi UI, Aditya Harin - dan Peneliti INDEF, Bhima Yudistira saat Diskusi Forum Tebet (Forte) dengan tema "Daya Tahan Ekonomi Rakyat Indonesia Hadapi Resesi," di Jakarta, Jumat, (11/10). Foto : Dadang Subur
(Ki-ka) : Tri Wibowo Santoso, Moderator Diskusi – Peneliti Pergerakan Kedaulatan Rakyat, Gede Sandra – Director Data Indonesia, Herry Gunawan – Peneliti Lembaga Demografi UI, Aditya Harin – dan Peneliti INDEF, Bhima Yudistira saat Diskusi Forum Tebet (Forte) dengan tema “Daya Tahan Ekonomi Rakyat Indonesia Hadapi Resesi,” di Jakarta, Jumat, (11/10). Foto : Dadang Subur

 

 

jakarta24jam.com – Pemerintah melalui Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengakui bahwa  Indonesia akan sulit mengatasi kemiskinan dan pengangguran kalau pertumbuhan ekonomi masih bergerak di level 5 persen seperti sekarang ini.

Bahkan, Bank Dunia pernah menyampaikan peringatan dini bahwa perekonomian Indonesia pada 2020 hanya akan tumbuh 4,6 persen, jauh di bawah target APBN yang sebesar 5,3 persen.

Direktur Data Indonesia Herry Gunawan mengatakan perekonomian Indonesia masih rapuh, dan daya beli masyarakat sangat lemah.

“Kinerja penerimaan negara pada 2019 mengkhawatirkan, karena realisasinya lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Herry ditemui saat acara diskusi Forum Tebet (Forte) di Jakarta, Jumat, (11/10/2019).

Herry membeberkan, sepanjang Januari hingga Agustus, penerimaan negara dan hibah baru mencapai 55 persen. Turun dibanding pementara periode yang sama tahun lalu yang sudah mencapai 61 persen.

“Dalam kondisi tersebut, defisit anggaran hingga akhir 2019 kemungkinan mencapai Rp305 triliun,” jelasnya.

Akibat kondisi ini, lanjut Herry, pemerintah berpeluang untuk semakin rajin mencari utang yang lebih besar untuk menutup defisit anggaran.

“Utang selalu jadi solusi. Padahal saat ini, risikonya semakin tinggi,” ungkapnya.

Herry mengibaratkan, ekonomi Indonesia saat ini seperti tubuh manusia yang kondisinya sedang meriang. Seluruh persendian terasa nyeri.

“Namun obat generik yang diberikan masih sama, ilusi,” tegas Herry. (TIP/RED)